puisi

Monday, May 13, 2019

MENJALANI PROSES PEMURNIAN

Seperti sebuah kuk yang terpasang
menggiring leher menjadi patuh
tidak memiliki kehendak bebas
ketaatan yang dipaksakan

Demikian manusia yang tertindas
di bawah kekuatan kuasa dosa
terjerat dalam perbudakan dunia
tak kuasa melepaskan diri

Bahkan manusia tiada menyadari
kuasa dosa yang membelenggu
menjerumuskan sampai terperosok
berdiam dengan pasrah

Padahal tangaNya selalu terbuka
dengan setia terbentang menyambut
rindu mendekap dengan kasihNya
bagi hati yang mau dipulihkan

Betapa picik hati manusia
tiada sabar menjalani proses
untuk menjadi sebuah ciptaan baru
sempurna seperti Bapa

JaminanNya tidak pernah gagal
asalkan manusia mau menjalaninya
bagaikan perak yang dilebur dalam kui
bagaikan emas yang dimurnikan dalam perapian

Demikianlah kehendakNya bagi manusia
mengerjakan semua dengan sempurna
menciptakan peribadi yang berkenan
berharga dan mulia dihadapanNya







Friday, May 10, 2019

MEMBANGUN TEMBOK

Kedengaran seperti sangat baik
membuat perlindungan
mengelilingi dengan tembok kokoh
tiada yang dapat menembusnya

Terasa aman diam di baliknya
bebas dari hiruk pikuk
menikmati setiap detik
tanpa menghiraukan yang ada di luar

Membangun kekuatan sendiri
tiada peduli apa yang terjadi
bahkan telingapun sengaja ditutup
dari samar-samar suara sekitar

Semakin lama diam
semakin melupakan dunia luar
kepedulian sirna
hanyalah focus pada diri

Apakah kita sadari
dengan setiap tembok dalam diri
kokoh di dalam hati
menutupi kepedulian

Apakah kita sadari
semakin menjauh dari rasa
hati semakin tiada peka
keras bagaikan batu karang

Padahal membangun kekuatan tembok
bukan hanya membuat aman
aman untuk peduli sesama
apalagi yang dianggap mengusik

Tetapi sadarilah
membangun tembok diri
akan menjadi penghalang
KasihNya untuk masuk dalam hati kita








MASA LALU

Seiring waktu berputar
demikian pula roda kehidupan
tiada mungkin bertemu kembali
dengan suatu saat di suatu masa
sekalipun sangat meninggalkan bekas

Yang ada hanyalah kenangan
ada yang terukir indah
namun ada pula yang menorah luka
semua telah terlewati kehidupan
merangkai rantai tiada putus

Ada yang hidup didalamnya
sengaja menyimpan abadi
dalam bayang-bayang masa lalu
padahal hidup ini harus dihadapi
bahkan masa depan harus disongsong

Menyesali semua yang sudah terjadi
memelihara hati yang terluka
mengabadikan setiap dendam
memupuk kepahitan sampai berakar kokoh
menutup rapat pintu maaf

Masa lalu adalah tempat belajar
belajar mengenai kehidupan
Masa kini adalah tempat berjuang
Masa depan adalah tempat berharap
Marilah meringankan hati
menggantungkan harap kepadaNya
menjalani hidup denganNya
Sang Pemberi Kehidupan





Wednesday, May 8, 2019

MENGUASAI HATI

Suatu ketika kebencian melintas
melenggang menggoda di depan
begitu kuat menarik pengaruh
pintu terbuka menyambutnya
bersemayam dalam hati dan jiwa

Sayup-sayup suara kecemburuan
berbisik sendu tepat ditelinga
merangkak masuk dengan tenang
merasuk sampai ke dalam
menguasai akal dan hati

Terpapar kokoh di atas permadai
dendam kesumat sangatlah menggiur
menghasut memenuhi dengan hal buruk
menggiring hati untuk menyetujui
bersatu memperkokoh dendam di hati

Begitu kuat pengaruhnya
benci, cemburu dan dendam
menguasai hati dan jiwa yang lemah
apabila tiada membuka ruang
untuk diisi oleh kasihNya

Padahal apa gunanya bertahan
dalam benci, cemburu dan dendam
hanya akan mengeringkan tulang
hanya akan membungkukkan punggung
Tenangkan hati, biarkan kasihNYa
mengisi setiap ruang hati kita


Tuesday, May 7, 2019

PRASANGKA

Kabut kelam menutupi langit
Samar mulai terdengar suara gemuruh
Semua mulai mencari tempat berteduh
Hal di bawah langit terbuka diabaikan
Prasangka akan datang badai

Mengacaukan hati yang berharap
Padahal banyak hal harus selesai
Mengabaikan setiap janji
Karena takut jalan berbuih badai
Kekuatan prasangka menggagalkan paham

Perlahan angin meniup menggeser awan
Seberkas sinar keemasan mulai muncul
Menepis kelam kabut sehingga cerah
Yang disangkakan tidaklah nyata
Prasangka badai sirna oleh cahaya

Manusia dikuasai gelap pikiran
Tidak terkendalikan oleh kebenaran
Setiap hal menuai prasangka
Berujar dahulu sebelum berpikir
Akhirnya prasangka hanyalah ilusi


Monday, May 6, 2019

SEBUAH KETULUSAN YANG TIADA BERBALAS

Melangkah menyusuri waktu
semenjak wajah mentari masih sembunyi
suara kokok ayam masihlah parau
embun menyatu dengan angin
dinginnya menusuk sampai ke jiwa

Tetap tegak meskipun rapuh
demi berlangsung sebuah hidup
bahkan sang malam merasa malu
seakan ditolak tuk datang menyapa
berharap siang lebih panjang

Beban tak pernah selesai
bahkan karya tak bisa sempurna
kedua tangan seakan kurang
pegal sudah tiada berarti
bahkan retakpun tak terasa

Banyak yang terabaikan
bahkan diripun tiada berarti
meskipun sekedar terpejam sesaat
pikiran tidak berkompromi
komitmen tetap harus dijawab

Begitu banyak yang dilakukan
demi sebuah komitmen
yang diterima tidaklah sebanding
tulus hati tiada berbalas
karena ketamakan dan keserakahan

Hanyalah menuntut tanpa memberi
mata hati menjadi buta
kebal tak berbelas kasih
mengumpulkan pundi sampai meluap
bahkan tiada bisa tertampung lagi

Begitulah gambaran kehidupan
bagai kain diperas sampai kering
demikian yang lemah ditindas
sementara yang kuat semakin kokoh
di atas pundak yang lemah






Friday, May 3, 2019

KASIH TIADA AKHIR

Dia terduduk lesu di pojok jalan
merindukan segumpal nasi basi
mengais dari tumpukan sampah
beradu cepat dengan segerombolan kucing

Sepintas melintas dipusat kota
saat pagi hampir menyapa
sekelompok teruna terhuyung-huyung
dengan tatapan tiada berarah

Menyusuri setiap lorong rumah sakit
menemukan berbagai tatapan hampa
mendengar setiap rintihan perih
bahkan denyut nadi semakin sepi

Sepasang mata sendu menatap dari jendela
tangan kecil menggengam terali
merindukan pelukan ayah bunda
hanya berbagi dengan teman

Hanya sepenggal realita kehidupan
adakah hati sungguh terenyuh
kerinduan untuk berbagi kasih
walaupun hanya sekedar empati

Menyelamatkan jiwa yang hampir patah
mengembalikan semangat dalam diri
bahwa harapan akan datang menjelang
Karena kasihNYa tiada berakhir