Seperti sebuah kuk yang terpasang
menggiring leher menjadi patuh
tidak memiliki kehendak bebas
ketaatan yang dipaksakan
Demikian manusia yang tertindas
di bawah kekuatan kuasa dosa
terjerat dalam perbudakan dunia
tak kuasa melepaskan diri
Bahkan manusia tiada menyadari
kuasa dosa yang membelenggu
menjerumuskan sampai terperosok
berdiam dengan pasrah
Padahal tangaNya selalu terbuka
dengan setia terbentang menyambut
rindu mendekap dengan kasihNya
bagi hati yang mau dipulihkan
Betapa picik hati manusia
tiada sabar menjalani proses
untuk menjadi sebuah ciptaan baru
sempurna seperti Bapa
JaminanNya tidak pernah gagal
asalkan manusia mau menjalaninya
bagaikan perak yang dilebur dalam kui
bagaikan emas yang dimurnikan dalam perapian
Demikianlah kehendakNya bagi manusia
mengerjakan semua dengan sempurna
menciptakan peribadi yang berkenan
berharga dan mulia dihadapanNya
BLOG INI BERISI PUISI-PUISI SEBAGAI KESAKSIAN DAN UNGKAPAN PENGALAMAN PENYATAAN KUASA TUHAN DALAM HIDUP SAYA.. SEMOGA SEMUA PENGALAMAN BERSAMA TUHAN KIRANYA DAPAT TERWAKILI DALAM SETIAP PUISI YANG SAYA TULIS DAN MENJADI BERKAT BAGI KITA SEMUA. SEGALA KEMULIAAN HANYA BAGI TUHAN.
puisi
Monday, May 13, 2019
Friday, May 10, 2019
MEMBANGUN TEMBOK
Kedengaran seperti sangat baik
membuat perlindungan
mengelilingi dengan tembok kokoh
tiada yang dapat menembusnya
Terasa aman diam di baliknya
bebas dari hiruk pikuk
menikmati setiap detik
tanpa menghiraukan yang ada di luar
Membangun kekuatan sendiri
tiada peduli apa yang terjadi
bahkan telingapun sengaja ditutup
dari samar-samar suara sekitar
Semakin lama diam
semakin melupakan dunia luar
kepedulian sirna
hanyalah focus pada diri
Apakah kita sadari
dengan setiap tembok dalam diri
kokoh di dalam hati
menutupi kepedulian
Apakah kita sadari
semakin menjauh dari rasa
hati semakin tiada peka
keras bagaikan batu karang
Padahal membangun kekuatan tembok
bukan hanya membuat aman
aman untuk peduli sesama
apalagi yang dianggap mengusik
Tetapi sadarilah
membangun tembok diri
akan menjadi penghalang
KasihNya untuk masuk dalam hati kita
membuat perlindungan
mengelilingi dengan tembok kokoh
tiada yang dapat menembusnya
Terasa aman diam di baliknya
bebas dari hiruk pikuk
menikmati setiap detik
tanpa menghiraukan yang ada di luar
Membangun kekuatan sendiri
tiada peduli apa yang terjadi
bahkan telingapun sengaja ditutup
dari samar-samar suara sekitar
Semakin lama diam
semakin melupakan dunia luar
kepedulian sirna
hanyalah focus pada diri
Apakah kita sadari
dengan setiap tembok dalam diri
kokoh di dalam hati
menutupi kepedulian
Apakah kita sadari
semakin menjauh dari rasa
hati semakin tiada peka
keras bagaikan batu karang
Padahal membangun kekuatan tembok
bukan hanya membuat aman
aman untuk peduli sesama
apalagi yang dianggap mengusik
Tetapi sadarilah
membangun tembok diri
akan menjadi penghalang
KasihNya untuk masuk dalam hati kita
MASA LALU
Seiring waktu berputar
demikian pula roda kehidupan
tiada mungkin bertemu kembali
dengan suatu saat di suatu masa
sekalipun sangat meninggalkan bekas
Yang ada hanyalah kenangan
ada yang terukir indah
namun ada pula yang menorah luka
semua telah terlewati kehidupan
merangkai rantai tiada putus
Ada yang hidup didalamnya
sengaja menyimpan abadi
dalam bayang-bayang masa lalu
padahal hidup ini harus dihadapi
bahkan masa depan harus disongsong
Menyesali semua yang sudah terjadi
memelihara hati yang terluka
mengabadikan setiap dendam
memupuk kepahitan sampai berakar kokoh
menutup rapat pintu maaf
Masa lalu adalah tempat belajar
belajar mengenai kehidupan
Masa kini adalah tempat berjuang
Masa depan adalah tempat berharap
Marilah meringankan hati
menggantungkan harap kepadaNya
menjalani hidup denganNya
Sang Pemberi Kehidupan
demikian pula roda kehidupan
tiada mungkin bertemu kembali
dengan suatu saat di suatu masa
sekalipun sangat meninggalkan bekas
Yang ada hanyalah kenangan
ada yang terukir indah
namun ada pula yang menorah luka
semua telah terlewati kehidupan
merangkai rantai tiada putus
Ada yang hidup didalamnya
sengaja menyimpan abadi
dalam bayang-bayang masa lalu
padahal hidup ini harus dihadapi
bahkan masa depan harus disongsong
Menyesali semua yang sudah terjadi
memelihara hati yang terluka
mengabadikan setiap dendam
memupuk kepahitan sampai berakar kokoh
menutup rapat pintu maaf
Masa lalu adalah tempat belajar
belajar mengenai kehidupan
Masa kini adalah tempat berjuang
Masa depan adalah tempat berharap
Marilah meringankan hati
menggantungkan harap kepadaNya
menjalani hidup denganNya
Sang Pemberi Kehidupan
Wednesday, May 8, 2019
MENGUASAI HATI
Suatu ketika kebencian melintas
melenggang menggoda di depan
begitu kuat menarik pengaruh
pintu terbuka menyambutnya
bersemayam dalam hati dan jiwa
Sayup-sayup suara kecemburuan
berbisik sendu tepat ditelinga
merangkak masuk dengan tenang
merasuk sampai ke dalam
menguasai akal dan hati
Terpapar kokoh di atas permadai
dendam kesumat sangatlah menggiur
menghasut memenuhi dengan hal buruk
menggiring hati untuk menyetujui
bersatu memperkokoh dendam di hati
Begitu kuat pengaruhnya
benci, cemburu dan dendam
menguasai hati dan jiwa yang lemah
apabila tiada membuka ruang
untuk diisi oleh kasihNya
Padahal apa gunanya bertahan
dalam benci, cemburu dan dendam
hanya akan mengeringkan tulang
hanya akan membungkukkan punggung
Tenangkan hati, biarkan kasihNYa
mengisi setiap ruang hati kita
melenggang menggoda di depan
begitu kuat menarik pengaruh
pintu terbuka menyambutnya
bersemayam dalam hati dan jiwa
Sayup-sayup suara kecemburuan
berbisik sendu tepat ditelinga
merangkak masuk dengan tenang
merasuk sampai ke dalam
menguasai akal dan hati
Terpapar kokoh di atas permadai
dendam kesumat sangatlah menggiur
menghasut memenuhi dengan hal buruk
menggiring hati untuk menyetujui
bersatu memperkokoh dendam di hati
Begitu kuat pengaruhnya
benci, cemburu dan dendam
menguasai hati dan jiwa yang lemah
apabila tiada membuka ruang
untuk diisi oleh kasihNya
Padahal apa gunanya bertahan
dalam benci, cemburu dan dendam
hanya akan mengeringkan tulang
hanya akan membungkukkan punggung
Tenangkan hati, biarkan kasihNYa
mengisi setiap ruang hati kita
Tuesday, May 7, 2019
PRASANGKA
Kabut kelam menutupi langit
Samar mulai terdengar suara gemuruh
Semua mulai mencari tempat berteduh
Hal di bawah langit terbuka diabaikan
Prasangka akan datang badai
Mengacaukan hati yang berharap
Padahal banyak hal harus selesai
Mengabaikan setiap janji
Karena takut jalan berbuih badai
Kekuatan prasangka menggagalkan paham
Perlahan angin meniup menggeser awan
Seberkas sinar keemasan mulai muncul
Menepis kelam kabut sehingga cerah
Yang disangkakan tidaklah nyata
Prasangka badai sirna oleh cahaya
Manusia dikuasai gelap pikiran
Tidak terkendalikan oleh kebenaran
Setiap hal menuai prasangka
Berujar dahulu sebelum berpikir
Akhirnya prasangka hanyalah ilusi
Samar mulai terdengar suara gemuruh
Semua mulai mencari tempat berteduh
Hal di bawah langit terbuka diabaikan
Prasangka akan datang badai
Mengacaukan hati yang berharap
Padahal banyak hal harus selesai
Mengabaikan setiap janji
Karena takut jalan berbuih badai
Kekuatan prasangka menggagalkan paham
Perlahan angin meniup menggeser awan
Seberkas sinar keemasan mulai muncul
Menepis kelam kabut sehingga cerah
Yang disangkakan tidaklah nyata
Prasangka badai sirna oleh cahaya
Manusia dikuasai gelap pikiran
Tidak terkendalikan oleh kebenaran
Setiap hal menuai prasangka
Berujar dahulu sebelum berpikir
Akhirnya prasangka hanyalah ilusi
Monday, May 6, 2019
SEBUAH KETULUSAN YANG TIADA BERBALAS
Melangkah menyusuri waktu
semenjak wajah mentari masih sembunyi
suara kokok ayam masihlah parau
embun menyatu dengan angin
dinginnya menusuk sampai ke jiwa
Tetap tegak meskipun rapuh
demi berlangsung sebuah hidup
bahkan sang malam merasa malu
seakan ditolak tuk datang menyapa
berharap siang lebih panjang
Beban tak pernah selesai
bahkan karya tak bisa sempurna
kedua tangan seakan kurang
pegal sudah tiada berarti
bahkan retakpun tak terasa
Banyak yang terabaikan
bahkan diripun tiada berarti
meskipun sekedar terpejam sesaat
pikiran tidak berkompromi
komitmen tetap harus dijawab
Begitu banyak yang dilakukan
demi sebuah komitmen
yang diterima tidaklah sebanding
tulus hati tiada berbalas
karena ketamakan dan keserakahan
Hanyalah menuntut tanpa memberi
mata hati menjadi buta
kebal tak berbelas kasih
mengumpulkan pundi sampai meluap
bahkan tiada bisa tertampung lagi
Begitulah gambaran kehidupan
bagai kain diperas sampai kering
demikian yang lemah ditindas
sementara yang kuat semakin kokoh
di atas pundak yang lemah
semenjak wajah mentari masih sembunyi
suara kokok ayam masihlah parau
embun menyatu dengan angin
dinginnya menusuk sampai ke jiwa
Tetap tegak meskipun rapuh
demi berlangsung sebuah hidup
bahkan sang malam merasa malu
seakan ditolak tuk datang menyapa
berharap siang lebih panjang
Beban tak pernah selesai
bahkan karya tak bisa sempurna
kedua tangan seakan kurang
pegal sudah tiada berarti
bahkan retakpun tak terasa
Banyak yang terabaikan
bahkan diripun tiada berarti
meskipun sekedar terpejam sesaat
pikiran tidak berkompromi
komitmen tetap harus dijawab
Begitu banyak yang dilakukan
demi sebuah komitmen
yang diterima tidaklah sebanding
tulus hati tiada berbalas
karena ketamakan dan keserakahan
Hanyalah menuntut tanpa memberi
mata hati menjadi buta
kebal tak berbelas kasih
mengumpulkan pundi sampai meluap
bahkan tiada bisa tertampung lagi
Begitulah gambaran kehidupan
bagai kain diperas sampai kering
demikian yang lemah ditindas
sementara yang kuat semakin kokoh
di atas pundak yang lemah
Friday, May 3, 2019
KASIH TIADA AKHIR
Dia terduduk lesu di pojok jalan
merindukan segumpal nasi basi
mengais dari tumpukan sampah
beradu cepat dengan segerombolan kucing
Sepintas melintas dipusat kota
saat pagi hampir menyapa
sekelompok teruna terhuyung-huyung
dengan tatapan tiada berarah
Menyusuri setiap lorong rumah sakit
menemukan berbagai tatapan hampa
mendengar setiap rintihan perih
bahkan denyut nadi semakin sepi
Sepasang mata sendu menatap dari jendela
tangan kecil menggengam terali
merindukan pelukan ayah bunda
hanya berbagi dengan teman
Hanya sepenggal realita kehidupan
adakah hati sungguh terenyuh
kerinduan untuk berbagi kasih
walaupun hanya sekedar empati
Menyelamatkan jiwa yang hampir patah
mengembalikan semangat dalam diri
bahwa harapan akan datang menjelang
Karena kasihNYa tiada berakhir
merindukan segumpal nasi basi
mengais dari tumpukan sampah
beradu cepat dengan segerombolan kucing
Sepintas melintas dipusat kota
saat pagi hampir menyapa
sekelompok teruna terhuyung-huyung
dengan tatapan tiada berarah
Menyusuri setiap lorong rumah sakit
menemukan berbagai tatapan hampa
mendengar setiap rintihan perih
bahkan denyut nadi semakin sepi
Sepasang mata sendu menatap dari jendela
tangan kecil menggengam terali
merindukan pelukan ayah bunda
hanya berbagi dengan teman
Hanya sepenggal realita kehidupan
adakah hati sungguh terenyuh
kerinduan untuk berbagi kasih
walaupun hanya sekedar empati
Menyelamatkan jiwa yang hampir patah
mengembalikan semangat dalam diri
bahwa harapan akan datang menjelang
Karena kasihNYa tiada berakhir
Subscribe to:
Comments (Atom)